Merayakan Hari Balai, Mencintai Kumandang Pasar
Oleh: Raudal Tanjung Banua
Semasa saya di kampung, hari raya berlangsung tiap pekan. Setiap hari itu tiba, ibu-ibu atau amak-amak, bibi-bibi dan saudara perempuan kami, akan mengenakan baju berbeda dengan kesehariannya. Baju terbaik dari almari, menguarkan kapur barus. Mereka akan naik sepeda gayung atau menyetop bendi lalu menghilir ke pusat keramaian yang terbentang sejak pagi hingga menjelang petang, di sana, di seberang jembatan panjang Batang Surantih. Bapak-bapak boleh agak santai bekerja, atau ikut menghilir masuk ke pusat keramaian itu. Dan kami, anak-anak—saya beserta kawan-kawan seusia—akan menjadi pihak paling berbahagia, saya rasa, kebahagiaan maksimal yang pernah dialami seorang anak yang lahir di kampung kami tercinta.
Tentu, karena sepulangnya ibu nanti, kami dibawakan makanan kesukaan: lamang tapai, godok, kue mangkuak, lupis, es cincau atau martabak horas. Tak lupa mainan: balon berbunyi (talambuang oek), mobilan plastik, kapal kanso, boneka Unyil dan bagi saya sendiri paling asyik adalah gambar umbul dan komik-komik: Superman, Sunan Kalijaga, Si Buta dan Jaka Sembung hingga azab kubur. Kadang ibu membeli poster artis, digulung dibawa pulang, ditempel diam-diam di dinding. Dalam sekejap muncullah Satria Bergitar, Menggapai Matahari, Rici Ricardo atau Dina Mariana di rumah kami. Semua indah belaka.
Sesekali, sehabis terima rapor tanpa angka merah, tanda kasih, kami diajak ibu ikut bersamanya, debarnya serasa akan ke kota. Naik bendi, duduk di belakang atau muka sama saja; riang gembira, berselisih orang bersilih. Kami akan diajak berfoto sepetik dua petik di Studio Foto Kia, dan jika rezeki berlebih, ibu singgah di Toko Emas Haji Syamsi membeli segram-dua gram kalung atau cincin, meski jika paceklik, jangankan emas simpanan, subang sebelah di telinga adik pun ibu gusah.
“Hari raya” apakah itu? Itulah hari balai atau hari pekan. Yaitu hari ketika suatu tempat di masing-masing kawasan (yang terdiri dari sejumlah nagari) diramaikan dengan aktivitas transaksi, jual beli. Hari “ramai”-nya berdasarkan kesepakatan dan ketetapan bersama. Orang kampung menyebut tempat itu pasa (pasar) atau balai. Dan hari ramai itu disebut hari balai atau hari pekan. Bagi petani itu hari berjual hasil bumi. Mereka akan membawa hasil panen. Sayur-mayur, segala buah dan rempah. Mulai cabe, jagung, pisang, cengkeh, pinang, sampai jengkol dan petai.
Semua diserahkan kepada pengumpul yang akan mengecernya kembali, baik langsung di pasar itu juga, atau dibawanya berkeliling ke pasar lain. Tak jarang petani membuka lapak menjual hasil buminya sendiri. Begitu pula nelayan, peternak, penjual jasa, lalu tentu saja yang paling banyak pedagang, dan akhirnya inilah hari yang melibatkan semua orang. Pasar penuh aneka barang dan pedagang. Mulai baju beludru yang lagi trend, kutang berenda, baju tiga seribu, tukang tambal gigi, tukang arloji, penjual sirih-pinang, tembakau, rokok daun nipah, minyak sunu badak atau batu lunak, semua ada.
Secara fisik, pasar berupa tanah lapang di sebuah lokasi, ditandai los untuk berjualan. Sebelah-menyebelah ada deretan kios milik rumah-rumah sekitar. Tapi karena jumlah los terbatas sementara jumlah pedagang dan penjual jasa banyak, maka jumlah terpal yang diikatkan ke ujung bambu atau pohon jauh lebih banyak, mengepung los-los. Selalu, bukan jarang, aktivitas meluber ke jalan raya, orang di Jawa menyebutnya pasar tumpah, tapi kami tak menyebutnya apa-apa, bahkan kemacetan pun tak terpikirkan.
Nah, berjejerlah pedagang semangka menggeletakkan dagangannya di pinggir jalan, bertandan-tandan pisang di sebelahnya, penjual sandal di sebelah lagi, dan seterusnya. Dekat situ ada penjahit sepatu, penjual es kukur dan martabak horas, gerobak sate dan lontong pical. Di bagian lain ada tenda penjual obat seperti tenda pemain sirkus. Tukang obat dengan pengeras suara dikerumuni orang, terpikat janji bakal ada ular berkepala dua muncul dari dalam peti besinya. Ketika tak keluar juga, orang-orang tetap saja datang mengelilinginya sebab tahu adat permainan. Mereka hanya ingin melihat atraksi para pembantu tukang obat yang main akrobat, diiringi si tukang obat yang terus berakrobat kata-kata menyebut segala penyakit: jalawik, antu balau, panu, kurap, nambi, tukak basi, bengek, bisul, dan seterusnya. Seru.
Seseorang berkata,”Mereka tipu kita dengan janji-janji manis akan datangnya ular berkepala dua; kita tipu pula mereka dengan menonton dan mendengar cerita mereka.”
“Iya, tak ada ruginya. Bahkan jika kita beli sebotol pensilin minyak yang dijualnya,” jawab seseorang.
“Tentu. Pemain akrobatnya cantik-cantik!”
Bertahun-tahun kemudian, saya seperti menemukan adegan itu kembali dalam cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti.
Sementara di jalan, sepeda dayung, sedikit “honda” (baca: motor), kuda-bendi, mikrolet tambang balai, berdesak-desak, dan makin dramatis ketika bus atau truk minta jalan. Pelan-pelan. Biasanya pemuda kampung sengaja menyentuh dinding bus dengan ujung jari, kadang melongokkan kepala ke pintunya yang terbuka, seolah dengan itu semangatnya untuk segera pergi merantau ikut terbawa.
Itulah gambaran hari pasar atau hari balai di kampung saya beserta kondisi pasarnya. “Gambaran” dipotret sekitar tahun 80-an, saat usia saya yang kelahiran 1975 berkisar 5-12 tahun. Lokasinya adalah Pasar Surantih yang terletak di kenagarian Surantih, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tepat di tepi jalan Padang-Bengkulu. Pasar diramaikan setiap hari Minggu, mulai pukul 7.30, puncak keramaian pukul 10-13, menurun hingga pukul 15, untuk akhirnya perlahan tutup setelah azar menjelang magrib.
Bagi sebagian pedagang, aktivitas mereka sudah mulai sehari sebelumnya, terutama pedagang keliling dengan jualan relatif besar, misal pedagang kain atau pedagang pengumpul. Malam sebelum hari balai mereka sudah stand by di pasar, bongkar muatan, membayar tukang angkut dan tentu, preman pasar.
Pasar memang tak hanya diramaikan pedagang dari sekitar kampung atau nagari terdekat, tapi tercatat dalam agenda pedagang keliling (pedagang babelok) dari berbagai tempat. Orang dari berbagai wilayah akan berkumpul seperti menghadap sabda raja. Meski kampung kami sejatinya kampung petani, untuk beberapa hasil bumi tetap ada yang didatangkan dari luar, misal bawang perai dari Solok, cabe kecil (disebut lado jarum-penjahit) dan kopi Nur dari Kerinci. Begitu pula sebaliknya, hasil bumi kami yang sudah berada di pihak pengumpul, juga akan dibawa ke pasar lain.
Di luar hari balai, ada hari alang. Pada hari itu, penjual dan pembeli hanya dari sekitar kampung saja, paling hanya satu los yang terisi dan waktunya pun pendek. Alang itu mungkin maksudnya elang, dalam bentuk lain kadang disebut garudo, dan ini merujuk pada gambaran kelengangan yang biasa tersampaikan tukang kaba dalam pagelaran Rabab Pasisie,”Kampung lengang-sunyi seperti dihala garudo tabang.” Untuk menggambarkan Namlea, Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer pernah menggunakan sebutan ini dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu—yang ia sebut penggambaran sepi khas Melayu.
Tapi bisa juga nuansa sepi itu dari elang benaran, gambaran tengah hari, sedang bapunta bayang-bayang, bakulin elang baputa-puta. Kami memang biasa menggambarkan pasar dari berbagai amsal. Misal yang lain, untuk menggambarkan pasar lengang biasa digunakan ungkapan,”Wah, pasar seluas kuda berlari.” Kalau kuda saja kencang berlari, dapat dibayangkan bagaimana sepinya, sebab jika pasar lagi ramai, jangankan kuda, bus yang melintas pun nyaris terhenti.
Sebaliknya, bila pasar ramai orang akan berkata,”Berdengung serupa puntalan lebah,” atau “Tak lolos badan ke dalam los.” Keramaian juga ditandai dengan sedikit cerita mistik,”Serasa ada orang bunian.” Itu makhluk halus yang tak kelihatan, tapi jika suasana hiruk-pikuk, konon pertanda ada orang bunian masuk pasar.
Ramai atau sepinya pasar menjadi standar atau ukuran keadaan hidup di kampung. Kalau pasar ramai, berarti sedang baik mata pencarian; dagang laju, jual beli lancar, jagung meupih di ladang-ladang. Biasanya suasana ramai itu akan tercapai bila hasil tani yang menjadi komoditi utama bagus harganya dan ikan di laut banyak mengena. Dulu komoditi utama itu bisa cengkeh, karet dan kopra, dan sekarang tentu sawit dan gambir. Apalagi sehabis musim tuai atau padi-padi serentak panen, wah, ramainya pasar betul-betul hanya disamai dengan Lebaran. Sasak bagudincik, jalan taimpik.
Untuk hasil laut yang dijadikan standar rujukan adalah ikan tangkapan bagan (kapal mesin ukuran medium). Jika bagan mengena, pasar akan berdenyut hidup; jika paceklik atau terang bulan (saat bagan tak melaut) pasar ikut tercekik. Tapi beruntung bahwa alat tangkap nelayan di daerah kami tak semata mengandalkan bagan. Ada kapal tunduah, payang, hingga pukat. Lumayan, tetap bisa menghidupkan pasar.
Prinsipnya, musim ikan atau tidak, musim panen atau menanam, mekanisme pasar tak boleh terganggu. Faktor penentu adalah harga-harga kebutuhan pokok yang terjangkau, hasil bumi atau hasil laut stabil dan harga komoditi utama tak dibuat jatuh oleh para toke. Jika satu atau semuanya tak bersahabat, alamat pasar akan terguncang. Di sini, “Indonesia bagian dari desa saya” ala Cak Nun dapat dilihat dan dirasakan dengan sangat nyata.
Pasar Surantih termasuk paling ramai di kawasan bekas Bandar Sepuluh. Hari balainya kejatuhan sampur pada hari Minggu atau Ahad, dan orang kampung biasa menyebut hari Akad. Pasar ramai, bukan kebetulan Minggu tanggal merah dan kami libur sekolah sehingga benar-benar terasa seperti hari raya, namun lebih karena pasar ini punya “mudiknya” sendiri.
Ya, dalam amatan saya sekarang (ini juga saya amsal pada kota-kota kecil, sebagaimana pernah saya tulis dalam cerpen “Kota Kecil Penyanggah Kota Kecil”), sebuah pasar bisa ramai jika ia memiliki “mudik” yang banyak dan potensial. Yakni, kampung-kampung di wilayah yang jauh, di kaki dan lambung bukit, dan dalam konteks Surantih, kampung-kampung di sepanjang bantaran dan hulu Sungai (Batang) Surantih. Dari Koto nan Tigo, Sianok, Kayu Gadang, Kapalo Banda, Ampalu, Kayu Aro, Batubalah hingga Langgai; dari Lubuk Batu, Sariak, Lampanjang, Sialang, Gunung Malelo sampai Salo Bukik. Ini tak terhitung kampung-kampung sepanjang jalan raya mulai Lansano, Taratak, Alai, Ampingparak dan seterusnya.
Pasar yang tidak punya “mudik” atau “mudik”-nya kecil saja biasanya tak bertahan lama, atau tetap bertahan tapi tak terlalu ramai. Misalnya, di Taratak dulu ada Pasar Kamis, tapi kemudian tutup karena Taratak tak punya “mudik-hulu”. Sementara Pasar Rabaa (Rabu) Taluak atau Pasar Rabu Ampingparak masih berjalan tapi tak terlalu ramai.
Tak kalah ramainya Pasar Batangkapas tiap Senin karena wilayahnya luas ke gunung dan pantai. Pasar Kambang tiap Sabtu, sama dengan Pasar Surantih, punya wilayah paling luas, dan karena itu di bagian “mudiknya” ada satu pasar lagi yakni Pasar Kamis Kotobaru. Juga Pasar Balai Selasa, sampai-sampai kota kecamatannya, Ranah Pesisir, bernama Balaiselasa.
Setiap kawasan punya pasar dan hari balainya sendiri, dan itu membentang di sepanjang hampir 200 km Kabupaten Pesisir Selatan. Tentu titik pasar melebihi angka tujuh, atau melebihi jumlah hari dalam sepekan, dan karenanya mau tak mau ada hari balai yang jatuh bersamaan. Tak apa, karena lokasinya berjauhan.
Dalam situs pesisirselatankab.go.id yang diakses tanggal 27 Mei 2020 pkl. 10.00, ada 13 daftar pasar tradisional di Pesisir Selatan. Yaitu: Pasar Tarusan, Pasar Baruang-Baruang Balantai, Pasar Asamkumbang, Pasar Inpres Painan, Pasar Kuok Batangkapas, Pasar Surantih, Pasar Baru Kambang, Pasar Balai Selasa, Pasar Simpang Lagan, Pasar Punggasan, Pasar Lalang Airpura, Pasar Raya Tapan dan Pasar Pagi Lunang.
Saya tidak tahu mengapa hanya 13 pasar yang “terdaftar”. Seingat saya ada banyak pasar tak tercatat seperti Pasar Sinayan Lumpo, Pasar Rabu Taluak, Pasar Ampingparak dan Pasar Kamis Kotobaru. Saya malah mendapat informasi lebih lengkap tentang pasar di Pesisir Selatan melalui media online, Sumbarfokus.com yang diakses dalam waktu hampir bersamaan. Di situ disebutkan bahwa ternyata di Kabupaten Pesisir Selatan ada 50 pasar! Rinciannya, 11 pasar kecamatan, 3 pasar serikat dan 36 pasar nagari.
Saya terhenyak. Rasanya serba salah. Jumlah 13 rasanya terlalu sedikit, 50 kok banyak bener! Tapi jika kenyataannya memang ada 50 pasar (jumlah yang tak pernah saya bayangkan), alangkah menggembirakan. Jika semuanya masih berdenyut hidup, itu potensi luar biasa yang dapat dikelola dan “dikumandangkan”. Pasar tradisional bukan hanya pusat jual-beli, juga pengumpulan komoditi, pusat ekonomi rakyat, pelestarian produk dan kuliner lawas, bahkan bisa untuk wisata. Karena itu, saya membayangkan ada koperasi pasar yang tata kelolanya bisa dirumuskan para pemangku balai.
Setali tiga uang, Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni juga menyatakan pembangunan pasar salah satu prioritas kepemimpinannya. Sebab menurutnya pasar merupakan lokasi perputaran uang, mampu menciptakan lapangan pekerjaan, dan lain sebagainya. Ia bahkan mengalokasikan anggaran untuk membangun satu unit pasar setiap tahun (pesisirselatankab.go.id, 31 Januari 2018).
Sejauh mana realisasi “prioritas” itu, saya tak tahu. Saya malah tertarik menyusuri 50 titik pasar, sekaligus ingin tahu pengertian kategori pasar kecamatan, pasar serikat dan pasar nagari. Tapi Sumbarfokus tak menjelaskannya; sesuatu yang seharusnya bisa terjelaskan dalam situs resmi kabupaten—tapi absen.
Sumbarfokus juga melaporkan anggaran dana pasar tahun 2019 sebesar 24,7 miliar yang berasal dari kabupaten dan pusat. Dana itu dialokasikan untuk membangun 11 pasar: Pasar Batangkapas, Pasar Cupak, Pasar Kambang, Pasar Mandeh, Pasar Lumpo, Pasar Sungai Sirah Silaut, Pasar Tapan, Pasar Indrapura, Pasar Muarasakai, Pasar Balaiselasa dan Pasar Labuan. “Rata-rata menghabiskan 5 miliar,” kata Kepala Bidang Perdagangan, Koperasi, UMKM dan Industri Kabupaten Pesisir Selatan, Hendro Kurniawan.
Baiklah kalau begitu.
Dalam ingatan samar saya, bila menyebut bentangan titik pasar dari Tarusan hingga Tapan (utara-selatan), muncul beberapa nama balai. Itu karena saya punya persinggungan langsung maupun tak langsung dengannya, sekalipun tak mungkin mengalahkan persinggungan mendalam saya dengan Pasar Surantih.
Pasar Tarusan misalnya, saya ingat karena rangkaian pasar besar terakhir bila saya berangkat dari kampung ke Kota Padang. Bus akan melambat di sana. Pasar ini anggun dengan bangunan bagonjongnya, pelatarannya luas dan lumayan tertata, seolah menunjukkan ia sudah dekat dengan kota. Sementara Pasarbaru Bayang saya ingat karena letaknya agak ke dalam, sehingga tak pernah menimbulkan macet; dari pasar itulah orang-orang sepanjang hiliran Batang Bayang berkumpul, kalau tak salah, tiap Sabtu.
Bahkan ada pasar yang sudah lama tutup, tapi tetap terbuka dalam hati saya. Itulah Balai Lamo Salido. Balai ini ditutup sejak ada Pasar Inpres Painan yang buka tiap hari—atau lebih awal lagi. Los-los, toko dan warung makan masih berdiri. Waktu saya sekolah di SMAN 1 Painan dan kost di Salido, Balai Lamo jadi tempat mangkal malam mingguan. Para pedagang kacang goreng berderet di pinutu losnya diterangi lampu minyak tanah yang diberi plastik warna-warni penghalang angin. Unik, rasanya ingin melihatnya lagi.
Pasar Batangkapas yang terkenal dengan kue panukuik-nya, saya kunjungi untuk dua kepentingan sekaligus; belanja dan “urusan kantor”. Yang saya maksud adalah kantor pos atau kantor camat, sebab dulu kampung saya masuk Kecamatan Batangkapas sehingga urusan administrasif atau berkirim surat kami harus ke kota kecamatan. Kebetulan hari balai Batangkapas hari Senin, hari yang pas untuk urusan formal.
Kemudian Pasar Taluk tiap Rabu, tak mungkin saya lupa. Letaknya dekat dari SMPN Taluk tempat saya bersekolah. Saat pulang atau keluar main, kami ke situ sekedar membeli bika dan cuci mata. Kalau ada uang lebih, bolehlah masuk ke kedai martabak, sebagaimana sering dilakukan Si Jon, kawan kami yang banyak uang jajannya. Tapi saya dan Armen Syafni, cukup puas mengudap bika Taluk yang terkenal itu. Pasar ini sebenarnya punya “mudik” juga: Koto Panjang, Koto Kaduduak dan Koto Kandis. Tapi mudik-nya tak terlalu luas, jadi keramaiannya juga terbatas. Selain itu, pasar ini tempat menjual alat-alat pertanian dan obat-obatan tanaman. Ibu saya, waktu tinggal di ladang Pendakian, menjadikan Pasar Taluk sebagai hari balainya.
Sampai di mana kekuatan dan denyut pasar-pasar itu sekarang, sudah lama tak saya rasakan langsung. Akan tetapi, jika sesekali pulang kampung, sempat juga saya bertemu dengan hari yang dulu dinanti-nanti. Suasananya tentu sudah beda. Rasa haru dan takjub mulai mereda dan jinak. Justru muncul pikiran, kenapa pasar-pasar itu tak berubah?
Fisiknya begitu saja. Beberapa pasar memang sudah ditata sebagaimana pasar rakyat di Jawa. Pasar Tarusan, Pasar Kambang dan Pasar Balaiselasa saya lihat sudah menggunakan bangunan besar. Namun sebagian besar masih merana. Lokasi sempit, tanpa penataan, los tua, pelataran becek, dan yang paling mengganggu adalah tumpukan sampah, kambing bahkan sapi bebas melenggang pada hari alang, kotorannya berleak-leak di pelataran (adakah petugas kebersihan?).
Pasar Surantih, pasar kebanggaan yang telah menciptakan dunia ajaib di masa kecil saya, tak luput dari kesedihan. Los tak bertambah dan menua, bangunan tinggal dibiarkan terlantar, misalnya bekas kantor Polsek Sutera. Sampah berserak di mana-mana, menggunung di tengah pasar (adakah tong sampah?), dan jika hari balai macetnya parah.
Satu-satunya “terobosan” adalah mengalihkan arus lalu-lintas ke jalan belakang, hal yang hanya mungkin sementara. Sebab jalan belakang itu kecil dan aspalnya tak sekuat jalan utama. Harus segera dipikirkan solusinya. Saya sempat dengar rencana pemindahan pasar ke Padang Api-Api (bekas pasar lama). Alih-alih berlangsung, malahan terdengar pasar sekarang akan dibuatkan bangunan baru. Ada anggapan warga menolak pasar dipindahkan. Itu asumsi. Jika dibicarakan baik-baik dengan warga dan pihak terkait pasti bisa. Ketahuilah, pasar yang sekarang dulu juga pernah di Koto Panjang yang hari balainya Selasa, kemudian pindah ke Kayu Gadang dengan balai Hari Sabtu (lihat Almasri Syamsi & Riri Fahlen, 2007: 82). Sumbarfokus menulis bahwa ada anggaran sebesar 2,8 miliar untuk membangun Pasar Surantih. Pasar akan dibuat dua tingkat, bagian bawah untuk berjual-beli, bagian atas untuk shelter evakuasi tsunami (semoga tak terjadi).
Hal yang banyak berubah adalah bertumbuhnya toko-toko di sekitar Pasar Surantih. Dulu toko bisa dihitung dengan jari. Studio Foto Kia, toko emas Haji Syamsi, toko Bang Iril-Bidan Eva dan toko kain Katik Tabuang, itu antara lain yang mencolok. Sekarang toko berderet dari jembatan sampai ke Sungai Sirah dan perbatasan Alai. Semua menyediakan barang-barang mulai sembako hingga peralatan elektronik. Di satu sisi menggembirakan karena orang punya “pasar”-nya sendiri, tanpa harus berdesakan di tempat becek. Tapi di sisi lain, pasar tradisional dengan tradisi tawar-menawar boleh jadi akan terdesak.
Inikah zaman yang ditandai lirih tembang Jawa,”Pasar hilang kumandange?”
Dalam falsafah Jawa, pasar merupakan tempat menandai denyut kehidupan. Pertanda denyut itu ada ialah terbukanya tawar-menawar, dialog antara pembeli dan penjual, dan itu bukan hanya bernilai transaksi, juga interaksi. Kumandange suara-suara tak perlu amplikasi gembar-gembor, namun dari laku keseharian. Dan ketika banyak pasar tradisional di Jawa bergeser menjadi sekedar tempat transaksi, sekaligus ia pun senyap, hilang kumandang. Apalagi ia dibombardir oleh pasar-pasar modern bernama toko berjejaring besar, swalayan dan mall. Kumandange itu perlahan surut padam.
Tradisi hari balai dan pasarnya, boleh dikatakan khas Nusantara. Tradisi merayakan pasar berdasarkan kalender masing-masing ada di mana-mana. Karenanya banyak nama tempat di negeri kita merujuk nama pekan atau pasar, sebut saja Peken Senin, Pasar Tanah Merah, Pasar Sinayan, Pasar Seluma, atau Denpasar (pura di utara pasar).
Di Jawa tradisi pasar termasuk kompleks. Pasar biasa dibuka di bawah kerindangan pohon beringin dengan hari pasaran berdasarkan penanggalan Jawa. Pada hari itu bukan hanya tingkat keramaian mencapai puncak, juga ada penjualan khusus, mulai bibit tanaman, burung, perkakas sampai hewan. Pada pasaran Kliwon, datanglah ke Pasar Bantul, itu hari baik buat mencari bibit tanaman. Saya sering disarankan tetangga untuk datang pada pasaran Kliwon mencari bibit mangga, sawo dan rambutan buat ditanam di pekarangan. Katanya, bibitnya unggul, terpilih dan juga berkah.
Pasar Kotagede dirayakan pada pasaran Legi. Tiap hari Legi, banyak dijual perkakas rumah tangga dari besi, tanaman hias dan obat herbal. Pasar Tlagareja, Gamping, hari pasarannya Wage dengan jualan khusus aneka burung. Pasar Godean pasarannya Pon, Sleman Pahing, dan seterusnya. (Diatami Muftiarini, Warga Jogja, 12 Juni 2017).
Alhasil, banyak orang punya persentuhan emosional dengan pasar tradisional. Ahmad Muhli Junaidi yang tinggal di Sumenep Madura, di akun facebook-nya memosting tentang “Pasar Kalapayan, Nasibmu Kini” (25 Mei 2020). Menurutnya, sebelum jalan penghubung Desa Montorna, Labbang Barat dan Sanah Tengah beraspal, Pasar Kalapayan sangat ramai. Hari pasarannya Senin dan Kemis. Muhli punya kenangan indah dengannya.
“Jika aku pergi ke rumah nenek di kampung Tareta Sanah Tengah, dan bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, pasti mampir di sini beli cendol atau rujak. Urusan rujak, aku tak usah bayar sebab nenekku, Nyai Marhami jualan rujak di pasar ini,” tulisnya.
Tapi apa yang terjadi? Setelah semua serba mudah—jalan diaspal, kedai belanja ada di mana-mana—pasar ini terancam mati. Para pedagang enggan datang karena pasar dibiarkan merana. Muhli menyarankan agar pasar ini dibangun permanen, dan ketiga desa di sekitarnya harus saling memiliki, dalam arti bertanggung jawab mengembalikan gema kumandang-nya. Apalagi Pasar Kalapayan notabene “berjasa” sejak zaman kolonial.
Masih dari Madura, M. Faizi dalam sebuah postingan di akun facebook-nya (sayang saya cari lagi tak ketemu) pernah mendaftar pasar di jalan lintas Madura, lengkap dengan hari pasarannya. Dengan itu ia “memperlantas” kita untuk “waspada”. Hindari jalur itu pada hari pasaran atau cari jalan alternatif jika tak ingin terjebak macet, pesannya, seperti sering terjadi di Pasar Tanah Merah, Bangkalan.
Di Minangkabau, pasar dirujuk sama pentingnya dengan gelanggang, lapau atau surau. Centeng di masa lalu bertempat di pasar, mereka yang menarik ongkos dan upeti dari pedagang, baik resmi maupun tak resmi. Bagi yang resmi ditunjuk langsung dan yang tidak beroperasi dalam siklus tahu sama tahu. Di kampung saya dulu ada pensiunan militer yang dikenal dengan namanya serem, Antu Pasa (Hantu Pasar), sebab setelah pensiun ia mendapat mandat mangkal di pasar jadi kepala “keamanan”.
“Urang bagak” (preman) dan “urang siak” (santri) bertemu di pasar dalam uji nyali. Pertarungan tak terelakkan, seperti bertemunya golongan hitam dan golongan putih. Ini digambarkan Gus tf Sakai dalam cerpen, “Pakiah dari Pariangan” (2011).
Bagaimana pasar berkembang, bisa dilihat uraian Meri Erawati, dkk. Dalam makalah untuk Seminar Internasional Pantai Barat Sumatra 19-20 November 2013 di Universitas Andalas. Ia mengkisahkan awal-mula pasar di Padang. Semula pasar terkonsentrasi di tepi Sungai (batang) Arau (pelabuhan), kemudian bergeser ke “pedalaman”. Tapi saya lebih pas menyebutnya bergeser ke “pusat” kota. Inilah yang terjadi ketika Goan Hoat dan Lie Say membangun pasar Goan Hoat dan Pasar Jawa di kawasan dekat Balaikota—yang dikenal sebagai Pasar Raya sekarang.
Mungkin karena di perkotaan (Padang kota penting abad ke-19) kepemilikan pasar diserahkan kepada pihak swasta. Paruh kedua abad ke-19, sebuah kongsi atau kelompok pedagang Cina membuka pasar yang kedua di wilayah pemukiman mereka, Kampung Cina. Setelah tempat itu terbakar mereka membuka lagi pasar baru, Pasar Tanah Kongsi.
Sementara itu, perusahaan Badu Ata & Co (dulu guru kami sering mencontohkan nama orang dengan sebutan “Badu Atai”) membuka pasarnya yang kedua di Belakang Tangsi ke arah utara, namun dilalap api juga pada tahun 1882. Segera setelah itu Gho Lam San membuka pasar baru berdekatan dengan bekas pasar terbakar milik Badu Ata & Co. Lie Say membangun pasar untuk kedua kalinya di Kampung Jawa.
Nah, ada empat pasar besar sekarang, saling bersaing: Pasar Gadang, Tanah Kongsi, Belakang Tangsi dan Kampung Jawa. Mula-mula pasar Gho Lam San di Belakang Tangsi maju pesat mengalahkan Pasar Gadang. Kemudian Pasar Gho Lam San diungguli oleh Pasar Kampung Jawa milik Lie Saay. Setelah Pasar Belakang Tangsi terbakar dua kali, daya saing Gho Lam San jadi berkurang. Kemudian dia menjual pasar itu kepada Goan Hoat. Yang menarik, Pasar Goan Hoat tekenal dengan “pasar miskin” karena menjual barang-barang murah. (Meri Erawati, Ahmad Nurhuda, Zulkifli Aziz, 2013).
Pasar di luar kota tentu memiliki riwayat dan dinamikanya sendiri. Kita ambil contoh Pasar Surantih yang bisa jadi representasi pasar lain. Almasri Syamsi dan Riri Fahlen dalam buku Alam Sati Nagari Surantih (Sejarah Asal Usul, Adat Istiadat dan Monografi Nagari Surantih) (2007), menjelaskan bahwa Nagari Surantih pernah menata wilayahnya dengan menempatkan pusat pemerintahan dan pasar sama pentingnya.
Pusat pemerintahan dibangun di Timbulun dan pasar di Padang Api-api, kini disebut Pasar Lamo. Kegiatan pasar lama berlangsung hingga tahun 1903, lalu dipindahkan ke lokasi sekarang. Pemindahan pasar dilakukan setelah Jalan Lintas Padang-Sungai Penuh selesai dibangun oleh VOC. Selain pasar tersebut, terdapat pula pasar pendamping, yakni: Pasar Lubuk Angik di Gunung Malelo, Pasar Balai Selasa di Koto Panjang dan Pasar Balai Satu di Kayu Gadang (Syamsi & Fahlen, 2007: 82).
Bagaimana suasana di Pasar Surantih dulu, dapat dilihat dari moda transportasi yang digunakan dalam aktivitas pasar. Menurut Syamsi & Fahlen (2007), untuk barang dagang dari “luar daerah” seperti Painan dan Padang menggunakan kapal—saya duga kapal juga membawa komoditi kami ke kedua kota itu. Bukan kebetulan lokasi Pasar Lamo Surantih di Padang Api-Api, di samping lokasinya luas-datar, juga persis di tepi muara. Ini memudahkan kapal menurunkan dan memuat barang. Sementara pedagang babelok (pedagang keliling) membawa dagangan mereka dengan padati atau padati lega (pedati yang diberi atap seperti rumah). Yang berjalan kaki mengunakan ogak, yakni bakul panjang yang disandang di punggung dan diberi tali penyanggah ke kepala. Apakah ada melibatkan kuda, Syamsi tak menyinggungnya.
Masyarakat Ganting Mudik, lanjut Syamsi, membawa hasil bumi dengan rakit bambu. Saya duga, ini berlaku juga bagi kampung-kampung lain di sepanjang aliran batang Surantih, terutama untuk komoditi khusus seperti karet atau hasil ladang. Buktinya, sampai tahun 90-an, masih sering dijumpai penjual bambu yang menggalah langsung bambu-bambunya dalam bentuk ikatan rakit dari kampung hulu, Langgai. Mereka berjualan di bawah jembatan panjang, sepekan menjelang Lebaran karena bambu itu akan digunakan warga untuk tradisi malamang (memasak beras ketan). Tentang ini saya pernah menulisnya dalam cerpen “Bambu-Bambu Menghilir” (2019).
Jika perkembangan sejumlah pasar di Kota Padang melibatkan pihak swasta terutama pengusaha Cina, Pasar Surantih, menurut Syamsi & Fahlen juga melibatkan pengusaha Cina. Namun sampai di mana keterlibatan tersebut, apakah semacam pemborong yang bekerjasama dengan VOC, atau memiliki sendiri pasar itu sebagaimana Goan Hoat, kita tak mendapat gambaran. Yang jelas di Surantih dulu banyak orang Cina, makam mereka masih dapat ditemukan di Alai.
Nah, mumpung menyebut Goan Hoat, saya jadi ingat Pasar Kambang sekarang. Sebagai penutup mari kita tengok pasar lain di Bandarsepuluh.
Pasar Kambang disebut Pasar Miskin. Bahkan kini menjadi nama kampung di sana. Dulu saya bertanya-tanya kenapa kok ada pasar miskin? Bertahun-tahun kemudian saya tahu bahwa pasar miskin justru menunjukkan pasar yang ramai. Ini merujuk Pasar Goan Hoat di Kota Padang yang dinamai “pasar miskin” karena menjual barang-barang murah.
Tapi saya belum tahu kenapa Pasar Batangkapas disebut Pasar Kuok. Secara harfiah “kuok” artinya kurap, tapi bisa juga menguap. Atau ada makna lain yang belum terungkap? Ini sekaligus keyakinan saya tentang banyaknya hal-hal menarik dari khazanah pasar tradisional kita—di mana saja berada—yang belum diketahui publik. Untuk itulah antara lain, kita menghormati pasar tradisional, di mana yang lama dikekalkan dan yang baru dialirkan. Di tengah ancaman rakusnya “pasar-pasar raksasa”, seharusnya kita menjaga eksistensi pasar tradisional sebagai pusaka dan suaka kolektif. Mari merayakan hari balai dan mencintai kumandangnya.

Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar terbaiknya, saran serta kritikan anda adalah motivasi bagi kami untuk berbuat baik kedepannya